Mr Almost

source: flashtrackz.com

“Dance-nya ok banget.”

Kepala saya otomatis mengikuti arah datangnya suara itu. Di sebelah kiri saya, berdiri seorang lelaki memegang gelas berisi minuman. Saya hanya memberi senyuman menanggapi pujiannya. Maklum, saya bukan orang yang pintar basa-basi atau senang berkenalan dengan orang di klub malam. Seorang teman malah sampai menjuluki saya autis. Ya, saya mengenal orang-orang di klub lebih karena dikenalin atau orang tersebut berinisiatif kenalan dengan saya.

Bagi saya, di klub itu hanya dua aktifitas yang menarik. Pertama, menikmati hentakan musik sepuas-puasnya. Kedua, mengamati tingkah-polah para clubber yang ada di sana. Bila ada sosok yang menarik, mata saya pasti langsung tertuju ke sana dan dia bisa menjadi objek pengamatan tersendiri , tidak hanya malam itu tapi malam-malam berikutnya ketika kebetulan saya dan dia ada di sana.

Kembali ke tokoh kita kali ini, ia pun berinisiatif mengenalkan diri dan seorang temannya. Basa-basi busuk pun dimulai. Seperti dugaan saya, dia baru pertama kali datang ke Klub X. Tadinya dia lebih sering ke Kota. Atas rekomendasi teman, ia coba-coba datang ke sini.

Tujuannya tidak lain tidak bukan untuk mencari clubber cewek yang bisa diajak pulang! Benak saya langsung nyerocos: “Pantes buka botol!”

Ia sempat menawarkan minuman yang saya tolak dengan halus. Saya tidak suka menenggak minuman beralkohol kecuali bir kalau sedang di klub malam. Dengan alasan ingin ke toilet, saya pun meninggalkan mereka berdua. Tapi saya tetap memperhatikan tokoh kita ini, yang karena kisah berikut, saya memberi julukan Mr. Almost kepadanya.
Perawakannya sebenarnya cukup ideal untuk dapetin cewek di klub malam. Tinggi sekitar 170 sentimeter, badan padat berisi walaupun agak sedikit bungkuk, kulit kuning langsat. Ia selalu mengenakan kemeja lengan pendek.

Setiap kali datang ke Klub X, dia selalu bersama seorang teman. Sekali waktu mereka pernah bertiga. Tapi tidak pernah datang dengan teman cewek. Seperti pertama kali bertemu, Mr. Almost dan rekan selalu buka botol, terkadang Vodka, lain waktu Jack Daniel.

Saya tetap bertegur sapa dengannya ketika bersua, sekadar basa-basi. Selebihnya saya asyik dengan diri sendiri atau dengan teman di klub. Dan selalu mengamati dia, tentunya. Dalam kesempatan clubbing “bareng” ini, ada pola tertentu yang saya lihat dia gunakan untuk mencari mangsa. Pertama, matanya akan jelalatan mencari calon korban, yang biasanya tidak jauh dari tempatnya berdiri. Oh, iya, ia selalu memilih spot pinggir meja panjang, karena di situ merupakan area yang disenangi banyak clubber cewek yang pengen dance.

Setelah menentukan calon korban, ia akan nge-dance didekatnya. Biasanya hanya dalam hitungan menit, dia akan mengajak kenalan. Mostly, mereka sih mau-mau aja. Masalah mulai muncul ketika Mr. Almost menerapkan jurus berikutnya: mengajak untuk gabung ke table. Butuh dua tiga kali nembak dalam semalam untuk ada yang mau.

Ketika diam-diam saya perhatikan, biasanya cewek yang sudah di table tidak betah berlama-lama. Dalam lima sampai sepuluh menit mereka ngacir. What’s wrong with this guy?

Sebenarnya kesalahan bukan sepenuhnya ada di tokoh kita ini. Ia telah benar ketika membuka botol, karena itu merupakan daya tarik tersendiri di klub malam. Ia telah benar ketika proaktif mencari sasaran, tidak menunggu.

Yang menjadi masalah adalah dia kurang tepat dalam memilih spot. Area tempat dia berpijak cenderung berisikan clubber yang memang hanya ingin have fun, just dance. Atau mereka yang sudah berpasangan dari awal. Bila niatnya memang ingin cari clubber yang bisa dibawa pulang, seharusnya dia pindah spot di ujung meja satu lagi. Kiat sederhana yang tidak pernah saya sampaikan kepadanya.
Disadari atau tidak, di setiap klub selalu ada spot favorit untuk setiap jenis clubber. Berada di spot yang tepat akan selalu memperbesar kesempatan untuk meraih apa yang diinginkan.

“Udah mo pulang aja, bro!” Tegur saya sekali waktu ketika ia dan temannya keluar dari pintu masuk Klub X sementara pas saya melirik ke tangan saya, jam masih menunjuk ke jarum tiga dini hari.
“Mau jalan ke tempat lain…,” sahutnya dengan rawut wajah kurang bahagia.

“Oks deh. Take care, bro…!” ujar saya sembari menjabat tangannya.

Jabat tangan terakhir saya dengannya. Saya tidak pernah lagi melihatnya mampir ke Klub X. ***

Komentar anda