Miss Lana

First Drink Charge (FDC). Kebijakan ini sudah jamak dilakukan klub malam ketika weekend. Setiap klub malam biasanya mengenakan harga tertentu, berkisar Rp 50.000 – Rp 100.000. FDC ini dikompensasikan dengan minuman berupa air mineral, juice atau sebotol bir. Biasanya FDC berlangsung dari mulai klub buka sampai sejam sebelum klub tutup, formalnya, sesuai surat edaran dari Pemprov DKI Jakarta adalah jam empat dini hari.

Pengenaan FDC di kala weekend ini bagi klub tentunya menguntungkan. Ambil contoh bila clubber yang datang sebelum jam tiga ada 400 orang, bila kali seratus ribu rupiah, berarti mereka telah mengantungi empat puluh juta rupiah dari FDC saja. Wajar saja bila klub-klub besar menargetkan pendapatan lebih dari seratus juta rupiah di kala malam weekend.

Namanya juga peraturan, selalu ada celah yang bisa diakali. Begitu juga dengan aturan FDC. Tokoh kita kali ini sebut saja namanya Miss Lana, yang kalau mau diperpanjang menjadi Miss Late Night Attacker. Para Miss Lana ini tidak pernah sendirian, setidaknya datang berdua. Dongeng kali ini akan berkisah satu di antaranya.

Potongan tubuhnya termasuk chubby dan tinggi sekitar 160 sentimeter. Skala 1-10, tampangnya bolehlah dikasih nilai enam. Yang menolong adalah kulit putihnya dan dada nan montok menggiurkan. Terlebih ia selalu memakai dress berbelahan rendah. Kelebihan terakhir inilah yang membuat saya tertarik untuk mencermati gerak-geriknya. 😉

Berbeda dengan rata-rata Miss Lana yang senang langsung pasang aksi naik table dengan dance aduhai untuk menarik perhatian calon mangsa, Miss Lana kita yang satu ini selalu berdiri menyudut. Terkadang ia memesan minuman, yang kelak dibagi berdua. Atau menunggu ada tamu yang bermurah hati membeli untuknya.

Lagi-lagi. berbeda dengan Miss Lana kebanyakan, nona kita yang satu ini tidak pilih-pilih mangsa, lokal atau bule sama saja. Anehnya, ia termasuk sosok pemalu untuk ukuran Miss Lana. Saya tidak pernah melihat ia menyapa lebih dahulu calon mangsanya. Kalau tidak menunggu disapa, ia akan menyorongkan temannya untuk memulai basa-basi busuk. Dalam satu dua kesempatan strategi ini berhasil. Sang mangsa akhirnya lebih memilih dia dari pada temanya. Oh iya, saya lupa mengatakan, Miss Lana kita ini selalu membawa teman yang penampilannya fisik, overall tidak melebihi dirinya, tapi bukan juga harus chubby loh!

Ada satu kejadian yang akhirnya membuat saya sekali waktu ngobrol dengannya. Kala itu sudah jam empat dini hari lebih. Klub X sudah mulai sepi. Saya sedang duduk sembari celingak-celinguk memperhatikan orang-orang sekitar yang masih asyik nge-dance. Ia bersama seorang temannya sedang menyudut di dekat bar. Saya lemparkan senyum kepadanya. Dia kembalikan dengan senyuman pula. Dia kemudian bisik-bisik dengan temannya. Entah apa yang mereka bicarakan, yang pasti, kemudian temannya tersebut menghampiri saya.

“Sering ke sini, ya?” sapanya memulai pembicaraan.

“Mayan,” jawab saya sembari tersenyum.

“Sama teman?”

“Nggak, sendiri aja.”

“Oh!” katanya singkat. Ada raut keheranan di wajahnya. Dalam hati saya berkata: “Tenang aja, lo bukan orang yang pertama kog merasa aneh kalo gua bilang sendirian doang ke sini.”

“Kalo gua ama teman gua gabung di sini?”

“O… silahkan saja!” Ia pun kemudian mengajak temannya, Miss Lana kita.

Setelah saling tukar nama, basa-basi busuk pun dimulai. Saya akhirnya “tahu” –saya buat dalam tanda kutip karena bisa saja dia tidak berkata sebenarnya—kalau ia bekerja di sebuah biro travel. Dulunya ia senang clubbing di daerah Blok M. Ia mulai rajin ke klub X, pada awalnya, karena ajakan seorang teman.

Seperti dugaan saya sebelumnya, Miss Lana kita ini pada akhirnya lebih mendominasi pembicaraaan dari pada temannya. Sampai pada akhirnya ia sampai kepada maksud sesungguhnya.

“Mau nggak ngajak kita keluar?” tanyanya tersenyum penuh arti.
“Kemana?” tanya balik saya sok lugu. Dalam hati sih tertawa. “Hahahaa…. Salah orang deh nih!”

“Kemana aja. Check in juga boleh…” Lagi-lagi dia memasang senyum penuh arti itu.

“Bertiga?” Sembari pasang mimik pengen.

“Kalo check in sih salah satu di antara kita aja.”

“Oo…!” sahut saya manggut-manggut.

“Mau gak?” tanyanya. Kali ini tampangnya terlihat serius. Mungkin karena setelah “Oo…!” saya langsung pasang aksi diam dan menikmati regukan bir tersisa dan mengalihkan pandangan ke tempat lain.

“Hehehe… Gak deh! Lain kali saja,” jawab saya sekenanya.

Tidak berapa lama kemudian, tanpa babibu, tokoh kita ini langsung mengajak temannya beranjak. Saya hanya nyengir saja. Satu hal yang saya sesalkan, saya tidak sempat bertukar nama dengan temannya, yang menurut saya lebih menarik dari dia. 😉 Entah ada angin apa, kali itu, Miss Lana membawa teman wanita yang tidak biasanya.

Cara Miss Lana kita ini memperlakukan saya, bisa dibilang sudah menjadi SOP para Miss Lana. Waktu adalah uang. Mereka tidak akan mau berlama-lama, bila memang tidak ada harapan, ya, harus cari mangsa berikutnya.

Oh iya, ada dua tipe Miss Lana, yaitu tipe “show girl” dan tipe “wallpaper girl”. Yang menjadi tokoh kita kali ini bisa dimasukkan ke kategori kedua. Mereka selalu berdiri dekat bar atau di lintasan lalu lalang orang. Mata mereka akan selalu awas mencari mangsa. Bila ada yang lewat, mereka dengan sigap akan member senyuman dan atau plus colekan. Ketika mendapat atensi, jurus-jurus penaklukan berikutnya pun bermunculan. Wallpaper girl jarang nge-dance. Bisa jadi karena mereka percaya diri dengan kemolekan dirinya atau karena memang tidak bisa dance!

Ini berbeda dengan tipe show girl. Baru memasuki pintu masuk saja, mereka sudah mulai heboh dan mereka akan asyik nge-dance. Pilihan spot-nya, kalau tidak di atas table, ya di area perlintasan orang. Gaya dance-nya cenderung sama, mengumbar kemolekan tubuh, terutama goyang pinggul. Satu lagi, mereka royal memberikan ciuman kepada calon pemangsa.

Sepertinya ada semacam konvensi di anatara mereka, kalau salah satunya sudah sukses menggaet mangsa, mereka akan beranjak pulang bersama. Apakah ada hukum berbagi “rampasan perang”, saya tidak tahu pasti. Yang pasti, pampasan perang itulah yamg membuat mereka bisa menikmati gemerlap ibu kota.***

Komentar anda