Clubbing: Kota vs Selatan

millenium (dancesignal.com)

Musik Kota, Musik Selatan. Istilah ini sudah lazim digunakan di kalangan clubber. Istilah yang merujuk ke perbedaan genre musik yang diputar di klub-klub malam di daerah Kota sekitarnya dan Jakarta Selatan sekitarnya. Saya menyebut sekitarnya, karena pada dasarnya apa yang disebut Kota itu adalah kawasan Kota Tua, yang membentang mulai dari Harmoni hingga Stasiun Kota. Sementara Selatan yang dimaksud membentang mulai dari Sudirman-Thamrin hingga Kemang.

Namun, selain musik, sebenarnya banyak perbedaan yang bisa ditemukan ketika clubbing di Kota dengan clubbing di Selatan.

Musik
Seperti telah disinggung di atas, perbedaan pertama adalah jenis musik. Sebagian besar klub malam di Kota mengandalkan musik Techno, yang lebih dikenal dengan Funky House. Jenis musik ini hanya akan sangat nikmat bila sembari menggunakan ekstasi atau ineks. Minuman yang paling laku pun adalah air mineral. Jangan heran bila di setiap meja yang berjejer adalah botol-botol air mineral bukannya alkohol. Hanya satu dua meja yang memesan minuman beralkohol.

Musik Funky House ini tidak hanya berkuasa di kawasan Kota, tapi juga hingga ke daerah-daerah pinggiran Jakarta. Beberapa kawasan hiburan malam di Jakarta Utara dan Jakarta Barat pun lebih senang memainkan Funky House, seperti di kawasan Tanjung Priok di Jakarta Utara dan kawasan Dan Mogot-Grogol, Jakarta Barat.

Sementara di Selatan, musiknya lebih kepada R&B dan Progressive. Musik yang lebih nikmat bila diiringi minuman beralkohol.

Venue
Tempat clubbing di Kota biasanya lebih merupakan one stop entertainment, sagala aya. Mulai dari klub, lounge, restoran, karaoke hingga spa. Bahkan ada juga yang menyediakan tempat penginapan sekalian, seperti Golden Crown dan Sun City. Di beberapa tempat bahkan menyediakan wanita penghibur juga, seperti misalnya di Malioboro dan Stadium.

Sementara di Selatan, biasanya hanya ada dua fungsi, bila siang hari menjadi restoran, malam hari menjadi tempat clubbing. Banyak juga yang semata-mata tempat clubbing.

dragonfly (contemporan.com)

Oh ya, di Kota, jangan pernah tertipu dengan suasana kumuh yang ada di sekitarnya. Kulit luar kebanyakan klub malam di Kota tidak mencerminkan kulit dalamnya. Bahkan ada satu dua tempat yang malah sebaliknya.

Maklum kebanyakan klub malam di Kota berdiri di atas ruko atau pusat perbelanjaan menengah. Kontras dengan rata-rata klub di Selatan yang rata-rata di berlokasi di mal-mal kelas atas, gedung perkantoran atau rumah yang disulap menjadi klub malam.

Dress Code
Banyak klub di Selatan menerapkan dress code yang ketat untuk tamu-tamunya. Beberapa yang terkenal misalnya Dragonfly, Blowfish dan X2. Termasuk dalam aturan ini adalah: tidak bisa pake t-shirt, sandal, topi dan celana pendek. Pernah suatu ketika seorang selebritas ibukota datang dengan pakaian kebesarannya, busana ala mantai, lengkap dengan sandalnya. Mungkin dia pikir dengan kesohorannya di dunia malam, bakal bisa mengangkangi peraturan yang satu ini. Apa lacur, selebritas kita harus menelan mentah-mentah ke-pede-annya.

Tapi terkadang aturan memang dibuat untuk dilanggar. Bila Anda VIP person, satu dua kali Anda masih mungkin untuk lolos bila karena tidak memenuhi satu hal, memakai t-shirt, misalnya.

Beda dengan di Kota. Di sini siapapun bisa masuk. Mau tampilan gembel pun monggo saja. Yang penting bisa bayar. Bisa dibilang no rules! Ketiadaan peraturan inilah, ditambah lokasi tempat, yang membuat sebagian clubber ogah untuk datang clubbing ke Kota, kecuali terpaksa. Seakan-akan turun kelas jadinya.

Kupu-kupu Malam
Adalah fakta dunia malam punya kaitan erat dengan pelacuran. Klub malam adalah salah satu tempat yang relatif aman untuk melacurkan diri. Di mata awam, akan susah untuk membedakan mana clubber sejati, mana kupu-kupu malam berkedok. Baru akan ketahuan bila telah menjadi korbannya. Bagaimana prostitusi terselubung ini berjalan?

Di sebagian klub malam di Kota, Anda akan disodori oleh germo, bisa germo resmi atau tidak resmi untuk menemani ajeb-ajeb. Termasuk dalam germo tidak resmi ini adalah para waiter klub tersebut. Bila Anda tipe pemalu, tidak perlu khawatir. Geleng-geleng kepala saja sendiri, lama-lama pasti ada perempuan nyamperin. Tapi hati-hatilah! Bisa-bisa Anda pulang dengan kantong kempes dan hampa tangan.

Modus yang berbeda dengan Selatan. Di sini tidak ada sama sekali germo resmi. Yang ada adalah germo tak resmi. Sang germo biasanya akan membawa “anak piaraan”-nya ke klub dan kemudian menjajakannya di dalam. Tapi ini biasanya jumlahnya hanya sedikit. Jauh lebih banyak adalah kupu-kupu malam freelance.

Para kupu-kupu malam di Selatan ini punya kategori dan pasar sendiri. Kupu-kupu malam yang beroperasi di klub-klub malam kelas atas biasanya lebih soft menjajakan dirinya. Mereka bisa ditemukan di CJ’s dan BATS, misalnya. Sementara di klub-klub kelas menengah lebih brutal. Silahkan jalan-jalan ke klub malam di sepanjang Jalan Falatehan, Blok M, Anda akan mengerti kebrutalan yang saya maksud.

Saya telah memberikan empat perbedaan signifikan antara clubbing di Kota dengan clubbing di Selatan. Ada yang lain? Silahkan berikan masukan Anda di sini. Akan selalu menyenangkan bisa saling berbagi.***

Komentar anda