Taman Konservasi (PKL) Tegallega

source: inilah.com

Kalau Jakarta memiliki Taman Monas sebagai lanskap hijaunya, Kota Bandung sebenarnya memiliki Taman Konservasi Tegallega. Bila Taman Monas memiliki Monumen Nasional, Taman Konservasi Tegallega memiliki Monumen Bandung Lautan Api, karya Sunaryo, seniman terkenal Bandung. Sayangnya, nasib Taman Konservasi Tegallega (TKT) ini berbeda jauh dengan Taman Monas.

Pada zaman kolonial Belanda taman ini sempat digunakan sebagai arena pacuan kuda. Sempat tidak diurus oleh Pemda Bandung, TKT menjadi taman terlantar yang bahkan sempat jadi tempat kupu-kupu malam menjaring mangsa. Pada suatu masa, ketika negeri ini dilanda krisis moneter, TKT malah sempat menjadi tempat penampungan pedagang kaki lima asal Cibadak Mall (Cimol) dan Kebon Kelapa

Berawal sebagai arena pacuan kuda orang-orang Belanda dulu, taman terluas di Bandung yang dibangun di atas tanah seluas 19,6 hektar ini, dalam perkembangannya mengalami pasang surut. Sempat menjadi lapangan yang terlantar hingga mendapat pandangan miring dari masyarakat sebagai tempat lokalisasi, penampungan PKL asal Cimol (Cibadak Mall) dan Kebon Kalapa.

Taman yang diapit oleh empat jalan raya ini kembali merebut perhatian Pemda pada saat Peringatan Emas Konfrensi Asia Afrika tahun 2005. Sejumlah pemimpin negara-negara Asia Afrika menanam lebih dari 25 jenis pohon di dalamnya.

Terakhir, awal tahun 2011 lalu, TKT sempat ditutup untuk umum selama dua minggu untuk pembenahan. Dari semula hanya bernama Taman Tegallega, kini diberi nama Taman Konvervasi Tegallega. TKT pun tampak lebih hijau. Tapi tetap tidak bisa bebas dari pedagang kaki lima.

Bulan lalu ketika saya berkunjung ke sini, saya miris dibuatnya. Ketika saya hendak melangkahkan kaki ke dalam, saya telah dicegat oleh petugas tak berseragam yang dengan ketus meminta saya membayar retribusi seribu rupiah. Tidak ada tiket yang diberikan kepada saya. Ada tiga pintu masuk yang sempat saya jelajahi, dan semuanya sama: tanda retribusi tidak diberi ke pengunjung dan petugas tak berseragam dengan tindak-tanduk ala preman.

Monumen Bandung Lautan Api

Padahal seperti yang saya baca di salah satu media online, Dinas Pertamanan (Distam) Kota Bandung menyediakan 1.000 lembar tiket masuk setiap minggunya. Angka yang menurut saya sangat sedikit kalau melihat animo masyarakat ke taman ini.

Saat saya menggunakan fasilitas toiletnya, saya sungguh terperanjat melihat kualitas air yang ada, keruh dan bau bak air comberan, padahal saya lagi-lagi harus membayar seribu rupiah dan tanpa tiket.

Distam konon menargetkan pendapatan 547 juta rupiah dari beragam retribusi yang diterapkan di TKT, termasuk penggunaan jogging track, kolam renang dan lapangan sepakbola. Target yang menurut saya kurang realistis.

Kalau dihitung dengan retribusi dari acara-acara yang kerap dilaksanakan di TKT, Distam, menurut hemat saya, bisa mendapatkan sampai satu milyar rupiah.

Saya menyempatkan diri mengelilingi taman ini, kala itu hari Minggu pagi. Hampir di setiap pedisterian di dalam dan luar taman penuh dengan pedagang kaki lima (PKL). Tidak tanggung-tanggung, bisa dikata semua jenis produk yang dijual di kaki lima ada di sini. Saya jadi berpikir, taman apakah sebenarnya ini? Apa sebenarnya yang dikonservasi? Saya tidak bisa menemukan jenis bunga spesifik di sini atau pohon langka, misalnya. Dengan melihat menjamurnya pedagang kaki lima, saya jadi berpikir jangan-jangan yang dikonservasi adalah PKL. Jadi lebih baik bila Pemda Bandung menambahkan lagi julukan bagi taman ini menjadi Taman Konservasi PKL Tegallega. Lebih sesuai dengan kenyataannya bukan!?***

Komentar anda